
TL;DR
Farming adalah kegiatan pertanian yang mencakup bercocok tanam, beternak, dan pengelolaan lahan untuk menghasilkan bahan pangan atau komoditas lain. Di Indonesia, sektor ini menyerap sekitar 29,36% tenaga kerja nasional dan menyumbang 12,40% PDB per 2023. Ada tiga pendekatan utama: pertanian subsisten (untuk kebutuhan sendiri), pertanian komersial (untuk pasar), dan pertanian organik (tanpa bahan kimia sintetis). Masing-masing punya kelebihan dan tantangan tersendiri.
Kalau Anda mengetik “farming adalah” di mesin pencari, ada kemungkinan besar yang muncul pertama adalah penjelasan soal istilah gaming. Farming memang populer sebagai jargon dalam game MOBA dan RPG, di mana artinya mengumpulkan sumber daya secara berulang. Tapi di luar dunia game, dan terutama dalam konteks pertanian, farming punya makna yang jauh lebih luas dan konkret.
Secara harfiah, farming adalah istilah bahasa Inggris untuk pertanian atau agrikultur: kegiatan mengelola lahan, menanam tanaman, dan memelihara hewan ternak untuk menghasilkan bahan pangan maupun komoditas lain. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Apa Itu Farming dalam Konteks Pertanian
Farming atau pertanian adalah aktivitas manusia yang bertujuan menghasilkan bahan organik melalui proses produksi yang melibatkan tanaman dan hewan. Ruang lingkupnya luas: mulai dari menanam padi di sawah, berkebun sayuran, beternak sapi perah, hingga mengelola perkebunan kopi dalam skala industri.
Dalam pengertian sehari-hari, farming sering dipakai secara bergantian dengan kata “pertanian”, “berkebun”, atau “bercocok tanam”. Tapi secara teknis, pertanian mencakup beberapa subsektor sekaligus: tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Semuanya masuk dalam kategori farming selama kegiatannya melibatkan pengelolaan sumber daya alam untuk menghasilkan produk yang bisa dikonsumsi atau diperdagangkan.
Yang membedakan farming dari sekadar berkebun di rumah adalah skala dan tujuannya. Berkebun hobi tidak selalu berorientasi pada produksi atau pendapatan. Farming, bahkan dalam skala kecil sekalipun, umumnya punya tujuan yang lebih terstruktur: menghasilkan pangan untuk keluarga, menjual hasil panen ke pasar, atau keduanya.
Jenis-Jenis Farming yang Umum Dipraktikkan
Tidak semua farming dilakukan dengan cara yang sama. Perbedaan skala, metode, dan tujuan menciptakan berbagai jenis pendekatan pertanian yang masing-masing punya karakteristik tersendiri.
Pertanian Subsisten
Ini adalah bentuk farming paling dasar: petani menanam untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya sendiri, bukan untuk dijual. Kalau ada sisa, barulah dijual ke pasar lokal. Pertanian subsisten masih banyak ditemui di daerah pedesaan Indonesia, terutama untuk tanaman pangan seperti padi, jagung, dan ubi.
Kelebihannya jelas: petani tidak bergantung pada pasar dan harga komoditas. Tapi kelemahannya juga ada. Pendapatan sangat terbatas dan petani sulit keluar dari lingkaran kemiskinan kalau tidak ada diversifikasi.
Pertanian Komersial atau Intensif
Berbeda dari subsisten, pertanian komersial memang dirancang untuk menghasilkan produk sebanyak-banyaknya dan menjualnya ke pasar. Ciri utamanya adalah penggunaan input tinggi: pupuk kimia, pestisida, bibit unggul, dan mekanisasi. Hasilnya lebih banyak, tapi biaya produksinya juga lebih besar dan ada risiko ketergantungan pada bahan kimia dalam jangka panjang.
Pertanian intensif mendominasi sektor perkebunan besar di Indonesia, seperti kelapa sawit, karet, dan tebu. Subsektor perkebunan ini juga menjadi kontributor terbesar dalam ekspor pertanian Indonesia, menyumbang 92,65% dari total ekspor pertanian senilai USD 36,27 miliar pada 2023.
Pertanian Organik
Pertanian organik adalah sistem budidaya yang menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis, pestisida buatan, dan rekayasa genetik. Sebagai gantinya, petani mengandalkan kompos, pupuk kandang, rotasi tanaman, dan pengendalian hama secara alami.
Di Indonesia, pertanian organik diatur dalam Permentan No. 64/2013 dan SNI 6729:2016. Produk organik terbesar yang dihasilkan Indonesia adalah kopi organik, diikuti beras organik dan madu. Harga jual produk organik umumnya 30–50% lebih tinggi dari produk konvensional, angka yang menarik bagi petani yang mau beralih. Tapi prosesnya butuh waktu dan komitmen karena tanah perlu masa konversi dari sistem konvensional.
Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Farming)
Sustainable farming atau pertanian berkelanjutan bukan berarti menghindari semua bahan kimia seperti pertanian organik. Pendekatan ini lebih ke penggunaan input secara bijak: tidak lebih dari yang dibutuhkan tanaman, tetap memperhatikan kesehatan tanah, dan menjaga agar lahan bisa produktif untuk generasi berikutnya. Banyak petani yang memilih pendekatan ini sebagai jalan tengah antara intensif dan organik penuh.
Peran Farming dalam Perekonomian Indonesia
Indonesia adalah negara agraris dengan lebih dari 1,9 juta kilometer persegi daratan, sebagian besar berupa tanah subur yang cocok untuk berbagai jenis tanaman. Tidak mengherankan kalau sektor pertanian masih jadi tulang punggung ekonomi nasional.
Menurut data BPS yang dirilis pada akhir 2023, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 12,40% terhadap PDB nasional. Lebih dari itu, sektor ini menyerap tenaga kerja terbesar dibanding sektor lain: sekitar 29,36% dari total angkatan kerja, atau setara dengan 40,69 juta orang per Februari 2023.
Angka itu sekaligus menunjukkan sebuah paradoks yang selama ini jadi perhatian serius para ekonom pertanian: sektor yang menyerap hampir sepertiga tenaga kerja Indonesia hanya menghasilkan sekitar 12% PDB. Artinya, produktivitas rata-rata tenaga kerja di sektor ini masih jauh di bawah sektor lain. Penyebabnya beragam, mulai dari pendidikan petani yang relatif rendah (sekitar 75% hanya tamat SD), umur tenaga kerja yang didominasi usia di atas 45 tahun, sampai minimnya akses ke teknologi dan modal.
Baca juga: KUD Adalah Koperasi Unit Desa: Pengertian, Fungsi, dan Manfaatnya
Tantangan Utama yang Dihadapi Petani
Pertanian bukan pekerjaan yang mudah. Di luar risiko cuaca dan serangan hama yang selalu ada, ada beberapa tantangan struktural yang membuat farming di Indonesia masih berat, terutama bagi petani kecil.
Akses modal dan pembiayaan. Banyak petani kecil tidak punya jaminan yang cukup untuk mendapatkan kredit dari bank. Siklus tanam yang panjang membuat arus kas tidak stabil, dan harga panen yang tidak menentu memperburuk situasi. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian memang ada, tapi akses ke informasinya belum merata sampai ke desa-desa terpencil.
Degradasi lahan dan perubahan iklim. Penggunaan pupuk kimia berlebihan dalam jangka panjang bisa merusak struktur tanah dan menurunkan kesuburannya secara bertahap. Di sisi lain, cuaca semakin tidak terprediksi. Musim hujan yang maju atau mundur beberapa minggu saja sudah bisa mempengaruhi hasil panen.
Regenerasi petani. Sensus Pertanian 2023 mencatat bahwa sekitar 58% tenaga kerja pertanian berumur 45 tahun ke atas. Anak muda di desa banyak yang memilih pindah ke kota. Kalau tren ini terus berlanjut tanpa ada dorongan masuk bagi petani milenial, Indonesia bisa menghadapi masalah serius dalam produksi pangan dua dekade ke depan.
Farming Modern dan Teknologi di Pertanian
Pertanian bukan sektor yang statis. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi mulai masuk ke ladang dan sawah dengan cepat. Drone untuk penyemprotan pestisida, sensor kelembaban tanah, aplikasi cuaca berbasis satelit, hingga sistem irigasi otomatis sudah mulai dipakai oleh petani modern di berbagai daerah.
Konsep precision farming atau pertanian presisi memungkinkan petani mengelola lahan berdasarkan data, bukan intuisi. Dengan sensor tanah yang terpasang di titik-titik tertentu di ladang, petani bisa tahu persis bagian mana yang butuh pupuk lebih banyak dan bagian mana yang cukup. Hasilnya: penggunaan input lebih efisien, biaya turun, dan dampak lingkungan berkurang.
Namun perlu diingat, teknologi baru bukan solusi instan. Biaya awal yang tinggi, keterbatasan sinyal internet di pedesaan, dan kurangnya pelatihan teknis masih jadi hambatan bagi sebagian besar petani kecil di Indonesia. Di sinilah peran lembaga pendukung seperti koperasi petani dan penyuluh pertanian menjadi sangat penting untuk membantu petani mengakses dan memanfaatkan teknologi baru.
Baca juga: Wirausaha: Cara Memulai dan Bertahan di Dunia Usaha
Subsektor Farming yang Menjadi Andalan Indonesia
Tidak semua komoditas punya kontribusi yang sama dalam pertanian Indonesia. Berdasarkan data BPS 2023, perkebunan menjadi subsektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB pertanian (3,88%), didominasi oleh kelapa sawit, kopi, dan karet. Perikanan menempati posisi kedua dengan kontribusi 2,66%.
Di luar angka ekspor yang besar, ada komoditas-komoditas yang perannya krusial untuk ketahanan pangan dalam negeri: padi, jagung, kedelai, dan berbagai tanaman hortikultura. Justru komoditas-komoditas ini yang paling rentan terhadap fluktuasi cuaca dan ketergantungan impor jika produksi lokal tidak mencukupi.
Pertanian di Indonesia masih punya ruang besar untuk tumbuh. Dengan lahan subur yang tersedia, keanekaragaman hayati yang tinggi, dan pasar domestik yang besar, potensinya jauh melampaui kondisi saat ini. Yang dibutuhkan adalah kombinasi kebijakan yang tepat, akses modal yang lebih luas, dan generasi petani baru yang mau belajar cara bertani dengan lebih efisien dan berkelanjutan. Data Kementerian Pertanian terus diperbarui dan dapat dicek langsung di satudata.pertanian.go.id.
