Ogan Komering Ulu: Profil, Sejarah, dan Potensi OKU

ogan komering ulu

TL;DR

Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) berada di Provinsi Sumatera Selatan dengan ibu kota Baturaja. Namanya diambil dari dua sungai besar yang melintasi wilayahnya: Sungai Ogan dan Sungai Komering. Nama ini sudah digunakan sejak 1878 dan kabupaten ini secara formal terbentuk pada 1950. Per 2024, penduduknya berjumlah 387.348 jiwa di 13 kecamatan. Sejak 2003, OKU resmi terpisah dari dua kabupaten hasil pemekaran: OKU Timur (ibu kota Martapura) dan OKU Selatan (ibu kota Muaradua).

Nama Ogan Komering Ulu bukan sembarang nama administratif. Ia lahir dari dua sungai yang sejak lama menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di wilayah ini: Sungai Ogan dan Sungai Komering. Kabupaten OKU, begitu ia lebih akrab disebut, terletak di Provinsi Sumatera Selatan dengan ibu kota di Baturaja, sebuah kota yang posisinya strategis karena dilintasi Jalur Lintas Tengah Sumatera sekaligus jaringan kereta api yang menghubungkan Palembang dan Tanjung Karang.

Dari Dua Sungai ke Satu Nama Kabupaten

Nama “Ogan Komering Ulu” secara resmi ditetapkan kelahirannya pada tahun 1878, sesuai kesepakatan yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten OKU Nomor 9 Tahun 1997. Secara administratif modern, kabupaten ini terbentuk berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1950, dan pada 20 Maret 1950 Gubernur Sumatera Selatan menetapkan batas-batas wilayahnya dengan Baturaja sebagai ibu kota.

Selama puluhan tahun, OKU adalah satu kabupaten besar yang mencakup hampir seluruh wilayah selatan Sumatera Selatan. Baru pada 2003, melalui UU Nomor 37 Tahun 2003, wilayah ini dimekarkan menjadi tiga: OKU Timur dengan ibu kota Martapura, OKU Selatan dengan ibu kota Muaradua, dan Kabupaten OKU sendiri yang tetap berpusat di Baturaja. Dorongan pemekaran kala itu lahir dari kebutuhan nyata, yaitu jarak yang jauh ke pusat pemerintahan membuat sebagian besar kecamatan di wilayah timur dan selatan kesulitan mendapat layanan publik yang memadai.

Setelah pemekaran, OKU memiliki luas sekitar 4.797 km² yang mencakup 13 kecamatan, 14 kelurahan, dan 143 desa. Berdasarkan data BPS Kabupaten OKU, jumlah penduduknya pada 2024 tercatat 387.348 jiwa. Suku Ogan adalah suku asli yang paling banyak menghuni wilayah ini, bersama suku Komering, Jawa, Bali, dan Tionghoa yang membentuk komposisi penduduk yang cukup beragam.

Baturaja: Kota BERAS di Tepi Sungai Ogan

Baturaja bukan sekadar nama ibu kota kabupaten. Kota ini punya semboyan resmi yang cukup spesifik: BERAS, singkatan dari Bersih, Elok, Rapi, Aman, Sejahtera. Lokasinya di pertemuan Sungai Ogan dan Sungai Lengkayap membuat kota ini tumbuh sebagai pusat perdagangan dan ekonomi yang hidup jauh sebelum pemekaran terjadi.

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri 2024, Baturaja memiliki penduduk sekitar 151.159 jiwa dengan luas wilayah 274,38 km². Kota ini tercatat sebagai salah satu kota yang diukur tingkat inflasinya di Sumatera Selatan, bersama Palembang, Lubuk Linggau, dan Prabumulih. Status sebagai barometer inflasi daerah itu mencerminkan aktivitas ekonomi yang sudah cukup signifikan di tingkat provinsi, bukan sekadar kota kabupaten biasa.

Dari sisi konektivitas, Baturaja punya keunggulan yang tidak dimiliki semua ibu kota kabupaten di Sumatera. Jalur Lintas Tengah Sumatera melewati kota ini, menghubungkan kota-kota di Sumatera dengan Pulau Jawa. Selain itu, jalur kereta api Palembang-Baturaja-Tanjung Karang menjadikan kota ini titik penting dalam jaringan distribusi barang dan penumpang di koridor barat pulau ini.

Kebun Karet, Sawit, dan Ekonomi yang Bertumpu pada Lahan

Sebagian besar perekonomian OKU bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan. Karet dan kelapa sawit adalah dua komoditas utamanya. Di Kecamatan Lubuk Batang, Peninjauan, dan beberapa kecamatan lain, perkebunan kelapa sawit sudah lama menjadi sumber penghidupan utama. Karet tetap relevan sebagai tanaman yang lebih dulu hadir, dan masih dibudidayakan secara luas di wilayah dataran rendah dan perbukitan kabupaten ini.

Di wilayah Kecamatan Ulu Ogan, ada potensi lain yang sedang dikembangkan: kebun kopi robusta yang tumbuh di ketinggian ke arah perbatasan dengan Muara Enim. Pemerintah Kabupaten OKU sudah mengusulkan Kecamatan Ulu Ogan sebagai kawasan agrowisata berbasis masyarakat, dengan wisata arung jeram dan susur sungai sebagai aktivitas andalan. Tantangan utamanya masih sama: infrastruktur jalan menuju kawasan tersebut belum sepenuhnya memadai, sehingga potensi yang besar ini belum bisa dinikmati wisatawan secara optimal.

Baca juga: Peran KUD Kabupaten OKU Selatan: Motor Penggerak Petani Kopi dan Jagung

Goa Putri dan Destinasi Wisata Alam OKU

Jika ada satu destinasi yang paling dikenal dari Ogan Komering Ulu, itu adalah Goa Putri. Letaknya di Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, sekitar 35 kilometer dari Baturaja. Berdasarkan informasi dari Pesona Sriwijaya, goa ini memiliki panjang sekitar 150 meter, ketinggian 20 meter, dan lebar 8-30 meter, dengan formasi stalaktit dan stalagmit yang sudah terbentuk selama ribuan tahun.

Yang membuat Goa Putri lebih dari sekadar objek alam adalah dua hal tambahan. Pertama, di dalamnya mengalir anak Sungai Semuhun yang memberi suasana berbeda dibanding gua-gua kering biasa. Kedua, goa ini menyimpan legenda Si Pahit Lidah dan Putri Dayang Merindu yang sudah lama hidup di tengah masyarakat OKU. Konon, putri cantik bernama Dayang Merindu dikutuk menjadi batu oleh Si Pahit Lidah karena berlaku tidak sopan, dan jejak kutukan itu bisa “dilihat” dalam berbagai formasi batu yang ada di dalam goa.

Goa Putri secara konsisten menarik ribuan pengunjung setiap musim liburan. Menurut laporan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKU, jumlah kunjungan pada libur Idul Fitri 2023 saja mencapai sekitar 1.600 orang hanya dalam beberapa hari pertama. Lokasinya yang dekat dengan Jalan Lintas Sumatera antara Baturaja dan Muara Enim membuatnya mudah dijangkau dari berbagai arah.

Di luar Goa Putri, OKU juga punya beberapa destinasi yang layak masuk daftar: Goa Harimau di kawasan yang sama, yang menyimpan fosil kerangka manusia berusia ribuan tahun; Air Terjun Curup Kambas di Desa Ulak Lebar yang lokasinya tersembunyi di perbukitan alami; wisata susur Sungai Ogan ke kawasan Ulu Ogan; serta Lesung Bintang dan Bukit Katung di sekitar Baturaja. Tiap destinasi punya karakteristik yang berbeda, jadi pilihan bergantung pada berapa banyak waktu dan fisik yang tersedia.

OKU, OKU Timur, dan OKU Selatan: Apa Bedanya?

Salah satu hal yang paling sering menimbulkan kebingungan adalah perbedaan antara tiga kabupaten yang namanya hampir identik. Ketiganya memang berasal dari satu wilayah yang sama sebelum pemekaran 2003, tapi kini masing-masing berdiri sebagai kabupaten otonom dengan karakter yang berbeda cukup jauh.

Kabupaten OKU (ibu kota Baturaja) adalah yang paling tua secara historis, posisinya di bagian tengah-barat, dan ekonominya didorong oleh perkebunan karet dan sawit serta perdagangan di Baturaja. OKU Timur (ibu kota Martapura) di sisi timur dikenal sebagai sentra pertanian, khususnya padi, dengan penduduk yang jauh lebih banyak. OKU Selatan (ibu kota Muaradua) di sisi selatan punya karakter geografis yang paling berbeda: wilayahnya berupa dataran tinggi pegunungan yang berbatasan dengan Lampung dan Bengkulu, terkenal sebagai penghasil kopi robusta terbesar di Sumatera Selatan, dan menjadi lokasi Danau Ranau. Untuk profil OKU Selatan secara lebih lengkap, Anda bisa membacanya di artikel Ogan Komering Ulu Selatan: Mengenal Kabupaten di Ujung Selatan Sumatera Selatan.

Jadi, jika seseorang menyebut “OKU” tanpa tambahan kata lain, yang dimaksud hampir pasti adalah Kabupaten Ogan Komering Ulu dengan ibu kota Baturaja, bukan dua kabupaten pecahannya.

Mengenal OKU Lebih Jauh

Ogan Komering Ulu adalah kabupaten yang identitasnya melekat kuat pada dua sungai yang memberi namanya. Dari sejarah yang dimulai pada 1878, pemekaran pada 2003, hingga potensi wisata yang kini semakin dikenal, OKU menawarkan perpaduan antara warisan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Bagi siapa pun yang ingin mengenal lebih dalam tentang Sumatera Selatan di luar Palembang, Baturaja dan wilayah sekitarnya adalah titik yang layak untuk dijelajahi, baik sebagai tujuan wisata maupun sebagai wilayah yang menyimpan potensi ekonomi yang belum sepenuhnya tergali.

Scroll to Top